Kolom: Buku atau Pusaka as a Souenir

Supa Athana - Tekno & Sains
03 February 2025 13:29
Kita belum biasa mendalami bagaimana usus ikan tercabik-cabik oleh serpihan-serpihan mikroplastik atau organ mitokondrianya dirusak oleh bahan pencemar yang yang nempel pada mikroplastik, karena tidak sengaja menelan mikroplastik.

Oleh: Khusnul Yaqin*
Besok tnggal 4 Februari 2025 saya akan meluncur ke Kuala Lumpur Malaysia. Pertama adalah ketemu dengan kolega di UPM (Universitas Putra Malaysia, QS 148, Prof. Natrah untuk membangun kerjasama pendidikan dan penelitian. 
Agenda kedua adalah mengikuti Regional Dialogue on Circular Economy and Plastic Waste Management in ASEAN di Universitas Malaya (UM, QS, 100).  Di Dialogue itu akan banyak sekali gagsan berseliweran dalam upaya mengatasi persoalaan pencemaran sampah plastik. 
Sayang sekali memang saat sekarang ini hidup kita seperti terjerat oleh bahan plastik. Kita tidak bisa menghindari kehidupan beraroma plastik. Dari bangun tidur sampai tidur kembali, hidup kita selalu dilingkupi oleh plastik. Di samping itu, prilaku kita gampang sekali membuang plastik tanpa memikirkan akibatnya. Yang aneh kita belum sepenuhnya mendukung, apalagi serius, pengelolaan sampah plastik, seperti bank sampah plastik. Padahal pengelolaan smapah plastik yang bijak seperti bank sampah plastik adalah strategi ynag bagus untuk mengurangi sampah plastik. 
Pikiran kita hampir selalu berpihak pada upaya menegasikan pengelolaan sampah plastik. Ah apa itu bank sampah plastik, pekerjaan remeh temeh yang tidak tidak ada gunanya. Kata-kata itulah yang hampir selalu menggelayuti pikiran kita. 
Kita belum biasa mendalami bagaimana usus ikan tercabik-cabik oleh serpihan-serpihan mikroplastik atau organ mitokondrianya dirusak oleh bahan pencemar yang nempel pada mikroplastik, karena tidak sengaja menelan mikroplastik. Padahal komunitas ikan inilah yang selalu disitasi dalam paper kita, atau dikonsumsi secara tradisional atau untuk kepentingan bisnis. 
Mikroplastik juga adalah kendaran yang nyaman bagi bakteri patogen sebelum masuk ke dalam tubuh ikan dan manusia. Di topik khusus inilah nanti yang akan saya diskusikan dengan Prof. Natrah, seorang kolega dari UPM. Semoga diskusi itu bisa berujung pada pembentukan konsorsium penelitian mikroplastik.

Buku Peranan Biomarker Dalam Manajemen Sumber Daya

                                                  Buku Sebagai Souvenir. (Foto: Doku men Pribadi)

Sebagaimana tradisi ketimuran, kita biasanya membawa souvenir untuk kolega yang kita kunjungi. Sayang sekali dari kemarin sampai hari ini (3 Februari 2025) pihak di rektorat yang mengurusi cinderamata tidak merespon chat WA saya. Kabar dari teman, souvenir kampus lagi habis. Waduh.... Tapi segera saya dapat ide untuk memghadiahkan pusaka khas Sulawesi Selatan, badik kecil yang sangat unik hasil pemburuan di dunia lain.  Ukurannya cuma 3-4 cm. Tapi Prof. Natrah adalah seorang guru besar perempuan. Akhirnya pikiran saya tertuju pada dua buku saya yang masih ada di lemari buku. Buku itu: "Mengenal Dengan Cepat Embriogenesis Ikan Binisi, Oryzias Celebensis Untuk Studi Ekologi",  dan buku "Peranan Biomarker Dalam Manajemen Sumber Daya Perairan di Era Revolusi Industri 4.0. 
Dua buku ini saja yang jadi souvenir. Mereka lebih tepat jadi souvenir, sekaligus bertukar gagasan dengan kolega di UPM via buku. 
Alhamdulillah setelah saya hubungi beberapa kolega di fakultas ada juga yang mau memberikan buku karyanya sebagai souvenir. Barangkali souvenir dalam bentuk buku bagus ditradisikan? 
Alih-alih kita berujar ngopi rong, kita sebut buku rong. 

Baca juga:
Punya Lahan Pertanian Terbesar di AS, Ini Kata Bill Gates

Tamalanrea mas, 3 Februari 2025

*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin


Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment