Saddam Al-Adimi: Melawan Ketidakadilan Lewat Lukisan

Supa Athana - News
16 February 2025 21:23
Melawan Ketidakadilan dan Penjajahan Dengan Lukisan

YAMAN- Di tengah hiruk-pikuk perang yang tak berkesudahan di Yaman, seorang seniman bernama Saddam Al-Adimi memilih cara berbeda untuk melawan ketidakadilan. Dengan kuas dan cat, ia menuangkan kritik tajam terhadap para pemimpin dunia yang, menurutnya, bertanggung jawab atas penderitaan rakyatnya. Lewat karyanya, Saddam menggambarkan realitas pahit konflik, menyoroti peran tokoh seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu dalam gejolak politik global yang berdampak langsung pada Yaman.

Mata yang Melihat, Suara yang Lantang

Dalam situasi penuh keterbatasan, Saddam menemukan kebebasan dalam seni. Lukisannya bukan sekadar pajangan, melainkan pesan lantang yang menyuarakan penderitaan rakyatnya. Karyanya menggambarkan kehancuran akibat perang, memperlihatkan anak-anak yang terluka, rumah-rumah yang hancur, dan ketidakadilan yang terus berlanjut. Ia menyebut karyanya sebagai "mata yang terlarang"—karena ia melihat dan mengungkapkan hal-hal yang seringkali diabaikan atau sengaja ditutup-tutupi oleh dunia.

Salah satu lukisannya yang paling menggugah menggambarkan sosok Trump dan Netanyahu berdiri di atas reruntuhan rumah-rumah di Yaman. Di bawah kaki mereka, anak-anak kecil menangis, mencari pertolongan. Ekspresi mereka tanpa belas kasihan, mencerminkan kebijakan-kebijakan yang menurut Saddam berkontribusi pada penderitaan rakyatnya. Dengan lukisan ini, Saddam ingin dunia melihat kenyataan pahit yang seringkali tertutupi oleh berita dan propaganda.

Melukis dengan Kaki: Simbol Ketahanan

Tidak hanya menggunakan tangannya, Saddam juga melukis dengan kakinya. Dalam sebuah performa seni yang viral, ia mencelupkan kakinya ke dalam cat dan menggambar di atas kanvas besar. Ini bukan sekadar teknik artistik, melainkan simbol ketahanan dan semangat juang. Kakinya yang berlumuran cat seakan merepresentasikan perjalanan panjang rakyat Yaman—penuh luka, tapi tetap melangkah maju.

Bagi Saddam, setiap gerakan kuasnya adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia tidak memiliki senjata, tetapi ia memiliki seni, dan itulah senjatanya. "Saya tidak bisa diam melihat penderitaan ini," katanya dalam sebuah wawancara. "Jika saya tidak bisa berbicara dengan kata-kata, maka saya akan berbicara melalui lukisan."

Baca juga:
Pelatih Arema FC Meminta Dukungan Dari Seluruh Elemen Tim

Seni Sebagai Senjata Perlawanan

Di Yaman, seni bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang kebenaran. Saddam Al-Adimi adalah salah satu dari sedikit seniman yang berani mengangkat suara melalui karya-karyanya. Dengan setiap lukisan yang ia buat, ia ingin membuka mata dunia terhadap apa yang terjadi di negaranya.

Karyanya telah menarik perhatian internasional, bahkan beberapa galeri seni di luar negeri mulai melirik dan mengapresiasi hasil karyanya. Banyak yang melihatnya sebagai simbol perlawanan, bukti bahwa seni bisa menjadi alat yang kuat untuk menyampaikan pesan.

Masa Depan di Ujung Kuas

Bayangkan jika suatu hari nanti, lukisan-lukisan Saddam terpajang di museum-museum besar dunia. Bayangkan jika gambarnya tentang perang di Yaman menjadi pengingat bagi generasi mendatang tentang bahaya kekuasaan yang tak terkendali. Seni Saddam bisa menjadi inspirasi bagi gerakan perdamaian global, membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Saddam Al-Adimi telah menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang keberanian untuk berbicara, bahkan di tengah ancaman dan penindasan. Dalam setiap goresan kuasnya, ia tidak hanya melukis gambar, tetapi juga menulis sejarah. Ia membuktikan bahwa seni bisa lebih kuat dari peluru, dan bahwa kebenaran tidak akan pernah bisa dibungkam.


Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment