Kolom: Jadilah Orang Merdeka Tanpa Ketergantungan

Penulis: Khusnul Yaqin
Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin
-
Dalam penggalan Maqtal Al Husain disebutkan:
"Kemudian ia (Imam Husain) berteriak ke arah mereka: Celakalah kalian wahai para Syiah keluarga Abu Sofyan! Jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut terhadap hari kiamat, maka jadilah manusia merdeka dalam urusan dunia kalian." -
Tragedi Karbala itu bukan sekadar tentang siapa, tetapi lebih penting lagi adalah tentang apa.
Siapanya bisa berganti, tetapi apanya akan tetap sama sepanjang sejarah kehidupan manusia. -
Husain bisa hadir di setiap zaman, begitu juga Syiah Abu Sofyan dan Yazid.
Tentunya hal itu akan bergradasi sesuai dengan kualitasnya masing-masing.
Tetapi kutub positif dan negatifnya tetap sama. -
Imam Husain menyeru mereka yang bergerombol menjadi Syiah Abu Sofyan agar mengambil posisi sebagai orang merdeka dalam urusan dunia atau politik.
Artinya, meskipun politik itu dianggap sebagai urusan duniawi yang profan, tetap saja harus disikapi dan dilakoni dengan cara orang yang merdeka. -
Orang yang dikelompokkan oleh Imam Husain sebagai Syiah Abu Sofyan sulit bahkan tidak mungkin melakoni kehidupan politik yang spiritual.
Oleh karenanya, Imam cuma menyarankan kepada Syiah Abu Sofyan hanya menjadi orang merdeka.
Setelah menjadi orang merdeka, sangat mungkin menjadi orang lebih arif.Baca juga:
OJK Terus Usut Kasus Hilangnya Dana Nasabah di BTN -
Sikap, karakter, dan paradigma berpikir Syiah Abu Sofyan melulu materi.
Oleh karenanya, mereka mendewakan jabatan, klik politik yang profan, dan sebagainya.
Pendekatannya selalu top-down, perebutan kekuasaan, dan politik katabelece.
Tidak mungkin orang-orang seperti itu melakoni politik sebagai suluk ruhani. -
Bagi Syiah Abu Sofyan, perubahan struktural bersama rakyat adalah pekerjaan mati.
Membangun perubahan bersama rakyat butuh kesabaran yang tinggi dan mampu puasa dalam jangka waktu panjang.
Mereka (Syiah Abu Sofyan) tidak punya karakter kesabaran sebagaimana menjadi mainstream gerakan nubuwah. -
Mengapa mereka mendukung atau menjadi Syiah Abu Sofyan?
A). Karena Abu Sofyan berhasil membuat fatamorgana kekuasaan politik dengan memanfaatkan moralitas unggul (yang waktu itu adalah agama Islam) sebagai jargon.
B). Ruang batin Syiah Abu Sofyan sudah dipenuhi abu remah-remah politik praktis yang kotor.
C). Dalam kalkulasi empiris mereka, menjadi Syiah Husain adalah bencana, minim materi, dan tidak ada kekuasaan atau hura-hura politik seperti yang ditawarkan oleh Abu Sofyan. -
Bagaimana Imam melawan gerakan Abu Sofyan?
A). Imam tidak lantas membuat partai politik untuk menandingi gerakan Abu Sofyan, sebagaimana biasanya orang-orang zaman sekarang menyikapi lawan politiknya yang profan.
B). Imam Husain justru tetap di jalan nubuwah, menghindari hiruk pikuk politik dengan membawa semua keluarganya meninggalkan Madinah dalam rangka mencari kemungkinan meletakkan dasar perbaikan moralitas umat.
Madinah adalah kota suci yang telah dikangkangi oleh gerombolan Syiah Abu Sofyan yang dikendalikan Yazid pada waktu itu.Perjalanan Cinta Bersama Imam Husain. (Foto:https://aks-neveshte.ir)
-
Di sepanjang perjalanan Madinah-Karbala, Imam telah menanamkan nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu salah satunya menjadi orang-orang merdeka.
Hasil yang mencolok dari gerakan nubuwah itu disimbolkan oleh Al-Hur.
Dari namanya saja, kita sudah tahu bahwa dia adalah representasi orang-orang merdeka. -
Dari sejarah kita tahu, orang-orang seperti Al-Hur-lah yang terus tetap melekat kepada para Imam Maksum dalam mengawal gerakan nubuwah.
Kita juga tahu dari sejarah bahwa yang merecoki gerakan nubuwah adalah Syiah Abu Sofyan, yang doyan mendukung gerakan politik yang profan.
Sebagaimana kita lihat, Syiah Abu Sofyan meletakkan hidup matinya kepada orang seperti Reza Pahlevi yang ditumbangkan Imam Khomeini.
Comments (0)
There are no comments yet