Trump Usir Zelensky dari Gedung Putih Tanpa Kesepakatan dan Makan Siang

Supa Athana - News
01 March 2025 15:20
Trump membatalkan makan siang bersama dan meminta Zelensky segera meninggalkan Gedung Putih.

Washington, D.C. – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih berakhir dengan ketegangan. Alih-alih menghasilkan kesepakatan, pertemuan itu berubah menjadi adu argumen yang membuat Trump membatalkan makan siang bersama dan meminta Zelensky segera meninggalkan Gedung Putih.

Menurut laporan Axios (28 Februari 2025), ketegangan terjadi setelah Trump dan Zelensky berdebat di hadapan wartawan. Delegasi Ukraina yang masih berharap untuk menandatangani perjanjian kerja sama terkait mineral langka terpaksa menunggu hampir satu jam di Ruang Roosevelt sebelum diberitahu bahwa pertemuan tidak akan dilanjutkan.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Axios bahwa Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, dan Mike Waltz, Penasihat Keamanan Nasional, mendatangi Zelensky untuk memberitahukan bahwa ia harus meninggalkan Gedung Putih tanpa melanjutkan agenda yang direncanakan.

New York Times (28 Februari 2025) melaporkan bahwa delegasi Ukraina sempat mengusulkan pertemuan tambahan antara Trump dan Zelensky untuk meredakan ketegangan, tetapi permintaan itu ditolak oleh pejabat tinggi AS. Akibatnya, pertemuan ini berakhir tanpa kesepakatan terkait mineral langka dan tanpa jaminan mengenai kelanjutan dukungan AS terhadap Ukraina.

Trump kemudian menulis di media sosial Truth Social bahwa Zelensky telah "tidak menghormati Amerika Serikat di Ruang Oval." Trump menambahkan bahwa "jika Zelensky siap untuk berdamai, ia bisa kembali."
2025 Trump–Zelenskyy meeting - Wikipedia

Bagaimana Ketegangan Dimulai?

Menurut laporan Axios, perselisihan dimulai ketika Wakil Presiden AS J.D. Vance menegaskan bahwa diplomasi dengan Rusia adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian. Pernyataan ini membuat Zelensky marah dan ia menanggapi dengan nada tajam, menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali melanggar perjanjian damai sebelumnya.

"Vance yang terhormat, diplomasi seperti apa yang Anda maksud?" kata Zelensky dengan nada tajam.

Trump dan Vance merasa pernyataan Zelensky tidak sopan. Ketika Trump mengatakan bahwa Ukraina kalah dalam perang, Zelensky mencoba membantah, tetapi Trump dengan nada tegas menuduh Ukraina kekurangan tentara dan berisiko menyeret dunia ke dalam Perang Dunia III.

"Anda mengalami kekurangan pasukan dan tetap menolak gencatan senjata," ujar Trump. "Anda sedang berjudi dengan nyawa jutaan orang."

Zelensky lalu menunjukkan gambar korban perang dan kehancuran di Ukraina, menegaskan bahwa "Putin yang memulai perang ini dan ia harus membayar harga atas tindakannya."

Namun, Trump bersikeras bahwa Ukraina dalam posisi lemah dan tidak memiliki kartu tawar dalam negosiasi. "Anda tidak punya kekuatan untuk menuntut apa pun," katanya. "Anda perlu membuat kesepakatan atau kami akan mundur, dan jika kami mundur, perang ini akan terus berlanjut. Itu bukan skenario yang bagus bagi Anda."

Baca juga:
Mentan Amran Berbagi Pesan Inspiratif di Wisuda UNM

Zelensky menanggapi dengan menegaskan bahwa ia serius dan tidak "bermain kartu." Trump, yang tampak semakin kesal, berkata, "Anda sedang bermain, dan saya sangat serius. Anda berjudi dengan nyawa jutaan orang dan mengarah ke Perang Dunia III."
Donald Trump and Volodomyr Zelenskiy sit in chairs in the Oval Office, whlie JD Vance sits nearby on a couch. Trump is yelling and making animated hand gestures. The press pool watches.

Dampak Politik dan Reaksi Internasional

Insiden ini memicu reaksi cepat dari sekutu-sekutu Amerika di Eropa. Para pemimpin dari Prancis, Jerman, Polandia, Spanyol, Denmark, Belanda, Portugal, Republik Ceko, Norwegia, Finlandia, Kroasia, Estonia, Latvia, Slovenia, Belgia, Lituania, Luksemburg, dan Irlandia secara terbuka menyatakan dukungan mereka untuk Zelensky, meskipun tanpa secara langsung mengkritik Trump.

Di Kongres AS, Partai Demokrat mengecam Trump karena dianggap menekan Zelensky di saat Ukraina masih membutuhkan bantuan militer AS untuk melawan invasi Rusia. Namun, penasihat Trump justru menyalahkan Zelensky, mengatakan bahwa ia "bisa saja setuju dengan pernyataan Wakil Presiden dan menghindari konfrontasi, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya."

Senator Republik Lindsey Graham, yang sebelumnya bertemu Zelensky sebelum pertemuan dengan Trump, mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah memperingatkan Zelensky agar berhati-hati. "Saya menyarankan dia untuk fokus pada aspek positif dan menghindari konflik. Tapi sekarang, saya tidak tahu apakah kita masih bisa bekerja sama dengannya."

Axios melaporkan bahwa salah satu faktor kecil yang membuat Trump kesal adalah cara berpakaian Zelensky. Penasihat Trump sebelumnya telah meminta agar Zelensky tidak mengenakan pakaian militer selama berada di Gedung Putih sebagai tanda penghormatan. Zelensky mengenakan pakaian hitam dengan lambang nasional Ukraina, tetapi tetap tidak memakai jas dan dasi. Saat menyambut Zelensky di pintu masuk, Trump berkomentar, "Hari ini Anda berpakaian sedikit lebih formal."
Terungkap! Zelensky Diusir dari Gedung Putih Setelah Cekcok dengan Trump

Zelensky: 'Saya Tidak Akan Minta Maaf'

Dalam wawancara dengan Fox News setelah insiden tersebut, Zelensky ditanya apakah ia akan meminta maaf atas apa yang terjadi di Gedung Putih. Zelensky menjawab, "Saya menghormati Presiden AS dan rakyat Amerika. Saya berterima kasih atas bantuan mereka. Namun, saya tidak yakin kami telah melakukan kesalahan."

Zelensky juga menegaskan bahwa ia tidak akan kembali ke Gedung Putih dalam kunjungannya kali ini. Setelah meninggalkan Gedung Putih, ia membatalkan dua agenda publiknya dan menulis di media sosial X (sebelumnya Twitter): "Ukraina membutuhkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Kami sedang berupaya ke arah itu."

Ketika ditanya apakah ia percaya bahwa Trump telah merencanakan konfrontasi ini sejak awal, Zelensky menjawab, "Saya tidak tahu. Saya hanya merasa situasinya sangat sulit. Saya tidak ingin kehilangan mitra besar kami di Amerika Serikat."

Zelensky juga menolak saran Senator Lindsey Graham yang menyarankannya untuk mundur. "Saya bisa dan ingin memperbaiki hubungan saya dengan Presiden Trump," ujarnya. "Saya berharap Presiden Trump lebih mendukung kami. Rusia yang memulai perang ini, dan saya ingin Trump berdiri lebih tegas di sisi kami."


Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment