Kolom: Belajarlah Filsafat Sebelum Mengancam Iran!

Supa Athana - Tekno & Sains
31 March 2025 14:36
Inilah perang paradigma—dan Iran telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya kuat, tetapi juga sangat terdidik dan sadar posisi mereka dalam sejarah dan filsafat dunia.

Oleh: Khusnul Yaqin*
Prolog:
Tulisan ini diinspirasi oleh tanggapan Iran terhadap surat yang dikirim oleh Presiden Amerika, Donald John Trump kepada Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Sayyid Ali Khamenei. Iran merespon dengan menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima 'persyaratan yang tidak realistis' dari Trump, dan bahwa tuntutan AS begitu luas sehingga tidak dapat dipenuhi bahkan secara hipotetis.
محتوای پاسخ ایران به نامه ترامپ فاش شد
Pembahasan:
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran, sebuah pernyataan dari Teheran layak untuk mendapatkan perhatian bukan hanya dari para diplomat, tetapi juga dari para filsuf dan perancang strategi global. Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima “persyaratan yang tidak realistis” dari pemerintahan Donald Trump, dan bahwa tuntutan Amerika tersebut “begitu luas sehingga tidak dapat dipenuhi, bahkan secara hipotetis.” Ini bukan sekadar retorika perlawanan, melainkan pernyataan filosofis yang tajam dan terukur.
Diksi "bahkan secara hipotetis" bukan sembarangan. Ia merupakan bentuk dekontruksi terhadap logika hegemonik Barat yang kerap membingkai perundingan dalam kerangka dominasi sepihak. Iran, dalam hal ini, menggunakan lensa Kantian—yang membedakan antara realitas ansich (das Ding an sich) dan realitas fenomenal—untuk menyampaikan bahwa apa yang diminta Amerika bukan hanya mustahil secara praktis, tetapi bahkan tidak layak sebagai kemungkinan berpikir.
Pernyataan ini membawa kita pada satu kesimpulan strategis: Iran tidak ingin sekadar membalas tekanan militer atau diplomatik dengan kekuatan, melainkan ingin mengubah arena permainan—dari kekuatan keras (hard power) ke medan intelektual. Iran ingin memaksa dunia, termasuk para elit Barat yang kerap menyederhanakan dunia Islam sebagai entitas yang “terbelakang”, untuk memahami bahwa yang mereka hadapi bukan bangsa dengan logika satu dimensi, tetapi sebuah peradaban yang mampu berdialektika, bahkan melampaui logika pragmatis Barat.
Ketika Iran menyebut syarat Amerika "tidak dapat dipenuhi bahkan secara hipotetis", mereka sedang mengajukan sebuah counter-discourse terhadap asumsi superioritas kognitif dan politik Barat. Dalam bahasa Clausewitz, ini adalah perang bukan hanya dalam arti fisik, melainkan dalam pengertian total war, di mana pertarungan juga terjadi di wilayah epistemologi dan ontologi.
Amerika, dan mungkin juga sekutu-sekutunya, disuruh untuk berhenti sejenak dan belajar filsafat sebelum mereka mengancam Iran. Karena bagi Iran, perlawanan bukan hanya tentang menolak invasi atau sanksi ekonomi, tetapi juga tentang menolak epistemologi kolonial yang menjadikan bangsa lain sebagai objek rekayasa geopolitik.
Pernyataan itu, jika dibaca dengan tajam, adalah bentuk edukasi politik. Ia menyampaikan bahwa rakyat dan elite Iran berpikir dalam lapisan yang lebih dalam dari sekadar kalkulasi politik kekinian. Mereka memahami apa itu martabat, kedaulatan, dan batas akal. Dan dengan itu, mereka menegaskan bahwa Barat tidak bisa memaksakan “realitas” yang bahkan belum masuk dalam nalar kemungkinan rasional.
Iran sedang mengajari dunia bahwa sebelum berbicara tentang resolusi konflik, orang harus tahu apa itu realitas, apa itu kemungkinan, dan bagaimana menyusun keinginan yang logis. Inilah perang paradigma—dan Iran telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya kuat, tetapi juga sangat terdidik dan sadar posisi mereka dalam sejarah dan filsafat dunia.

                                                            Tamalanrea mas, Idul Fitri Mubarak, 31 Maret 2025

Baca juga:
Ilmuwan Ciptakan 'Super Melanin' yang Dapat Mempercepat Penyembuhan Kulit Terbakar, dan Banyak Lagi

Penulis adalah Cendikiawan Muslim Indonesia


Related Posts

Comments (0)

There are no comments yet

Leave a Comment