
Oleh: Khusnul Yaqin*
Pada tanah aku tanyakan luka Palestina,
ia retak—bukan karena kering,
tetapi karena terlalu banyak jenazah yang ia peluk tanpa kafan.
Pada langit aku tanyakan doa Palestina,
ia murung—tak lagi bersujud,
sebab terlalu sering menyaksikan malaikat dicaci oleh pemilik kilang senjata.
Aku mendaki waktu,
menyelusup di sela-sela sejarah yang disembunyikan.
Kutemui Musa, tersedu di tepi Sinai—
karena tongkatnya kini digunakan bukan untuk membelah laut,
melainkan untuk memukul Gaza.
Kuketik surat pada malam,
tanyaku satu:
"Di mana suara kaum beriman ketika anak-anak dibom di pelukan ibunya?"
Malam menjawab lirih:
"Mereka sibuk di mimbar, memoles kata-kata menjadi doa tanpa makna."
Wahai manusia,
bila engkau diam saat keadilan disayat di depan matamu,
jangan kau sebut dirimu hamba Tuhan.
Sebab Tuhan pun muak dipakai sebagai stempel penjajahan.
Ali Shariati berbisik pada jiwa-jiwa yang membatu
Jika engkau tak berdiri di sisi yang tertindas, maka tempatmu adalah bersama para penindas
Aku bertanya pada bangsa-bangsa berjas rapi di gedung bundar PBB:
Berapa juta anak lagi yang harus dikubur agar kalian bersedia menyebutnya genosida?
Mereka tersenyum, menyodorkan resolusi yang sudah dikhianati sejak ditandatangani.
Aku menoleh pada kaum agamawan,
yang jubahnya panjang, tapi diamnya lebih panjang.
Apakah mihrab kalian hanya menghadap kekuasaan,
dan bukan pada kebenaran?
Baca juga:
Survei Indikator: Elektabilitas Andi Sudirman Sulaiman Terlalu Tinggi, Danny Pomanto Jauh Tertinggal
Aku menulis di atas batu,
karena kertas sudah enggan menampung dusta dunia.
Ku ukir:
“Palestina bukan hanya nama tanah, ia adalah luka yang diwariskan oleh nurani yang tertidur.”
Wahai pemilik istana yang berpagar emas,
dengan bendera bergambar kalimat tayyibah
jika engkau menyebut dirimu penjaga Haramain,
maka jawab:
“Mengapa engkau bersalaman dengan tangan yang berlumur darah anak-anak Quds?”
Dan ketika malam merambat dan bumi berdoa dalam isak,
suara itu datang dari liang paling dalam sejarah:
"Sesungguhnya, diam atas kezaliman adalah bentuk pengkhianatan terhadap wahyu."
Lalu aku berkata pada anak Palestina yang menggenggam batu:
"Engkaulah nabi yang tak ditulis dalam kitab—
karena keberanianmu adalah wahyu yang turun tanpa suara.
Dan kepada dunia yang sibuk merayakan kemajuan,
aku bertanya terakhir kalinya:
Apakah pencapaianmu ditulis di atas puing-puing rumah sakit dan sekolah yang dibom?
Jika begitu,
maka biarkan sejarah meludahi kemajuanmu.
Biarkan anak-anak Gaza yang bertelanjang kaki
menginjak nisan-nisan kebanggaan peradaban palsumu.
Wahai para pemegang pena dan mikrofon,
jika kalian tak bisa menyebut nama Palestina tanpa rasa takut,
maka diamlah—biarkan suara para syuhada yang menggema,
sebab darah mereka lebih jujur dari seluruh pidato kalian.
Aku tak menulis puisi ini untuk indah dibacakan,
aku menulisnya untuk menggugah yang lelap,
untuk mengganggu yang nyaman dalam kebisuan,
untuk menusuk hati yang telah membatu oleh diplomasi.
Dan bila aku mati sebelum melihat Palestina merdeka,
tanamlah aku menghadap ke sana,
agar tulang-belulangku tetap menanti fajar yang dijanjikan.
Salam alaika ya shahibal Asri waz Zaman
Tamalanrea mas, 26 Maret 2025
*Penulis adalah Cendikiawan Muslim Indonesia
Comments (0)
There are no comments yet